GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Romo Ricardus Manggu, Pr dari Keuskupan Labuan Bajo, dan Koordinator Forum Peduli Manggarai Barat, Lorens Logam

Count Down Pilkades Mabar, Forum Peduli dan Keuskupan Labuan Bajo Serukan Jaga Kamtibmas

IDETORIAL.com, Labuan Bajo – Forum Peduli Manggarai Barat bersama Keuskupan Labuan Bajo mengingatkan masyarakat dan para calon kepala desa untuk menjaga keamanan, persaudaraan, serta menerima hasil pemilihan secara dewasa, menjelang pemungutan suara Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT),

Pilkades serentak akan berlangsung Selasa, 29 September 2026, di 64 desa pada 12 kecamatan. Sebanyak 181 calon kepala desa akan memperebutkan dukungan dari 62.787 pemilih yang tersebar di 138 TPS.

Koordinator Forum Peduli Manggarai Barat, Lorens Logam, mengatakan Pilkades tidak semata-mata menjadi momentum memilih kepala desa, tetapi juga menjadi ujian bagi kematangan demokrasi masyarakat di tingkat desa.

Ia mengajak seluruh masyarakat di 64 desa menggunakan proses pemilihan tersebut untuk membangun budaya demokrasi yang sehat sekaligus menentukan pemimpin desa untuk masa jabatan sembilan tahun.

“Saya mengajak kita semua agar menjaga momentum pemilihan kepala desa ini untuk membentuk karakter demokrasi yang sehat, membentuk karakter pemimpin di desa selama sembilan tahun ke depan,” ujar Lorens, Minggu, 27 September 2026.

Sinergi BI NTT dan Pemda Berbuah Empat Penghargaan TP2DD dan TPID

Menurutnya, perbedaan pilihan politik tidak boleh memutus hubungan persaudaraan yang telah dibangun masyarakat. Karena itu, para calon maupun pendukungnya diminta mempersiapkan diri menerima dua kemungkinan dalam kontestasi, yakni menang ataupun kalah.

“Mari kita jaga tali persaudaraan dan keakraban yang kita bangun selama ini. Harapannya kepada teman-teman kandidat agar menjaga kerukunan. Siapapun nanti yang menang dalam kontestasi ini, kita hormati dan hargai semua putusan demokrasi,” katanya.

Lorens juga menyoroti peran panitia Pilkades dalam menjaga kredibilitas proses pemungutan suara. Panitia diminta bekerja secara profesional, transparan, dan tidak menjadi sumber provokasi di tengah masyarakat.

“Kepada teman-teman panitia, agar kita tetap bekerja profesional, transparan, dan tidak memprovokasi kandidat maupun masyarakat. Mari bahu-membahu menjaga marwah demokrasi kita di desa,” tegasnya.

Pesan serupa disampaikan Romo Ricardus Manggu, Pr, dari Keuskupan Labuan Bajo. Ia meminta para calon kepala desa dan masyarakat menerima hasil Pilkades dengan lapang dada setelah seluruh tahapan pemilihan selesai.

NTT Raih Empat Penghargaan Nasional TP2DD dan TPID

“Ketika kita melakukan pemilihan dan telah mendapatkan hasil Pilkades, hendaknya kita bisa menerima hasil itu dengan terbuka,” kata Romo Manggu.

Ia mengingatkan potensi gesekan justru dapat muncul setelah hasil pemilihan diumumkan, terutama jika kemenangan atau kekalahan diikuti euforia berlebihan dari calon maupun pendukung.

“Euforia berlebihan bisa menimbulkan gesekan. Ada yang pro, ada yang kontra, ada yang menang, ada yang kalah. Para pendukung bisa saja bentrok dan menimbulkan kekacauan sehingga harus kita jaga bersama,” jelasnya.

Romo Manggu juga mengaitkan pentingnya menjaga situasi keamanan dengan kondisi masyarakat Manggarai Barat dan wilayah Flores yang masih menghadapi dampak bencana gempa Flores.

Menurutnya, perhatian masyarakat semestinya tidak terlepas dari saudara-saudara yang masih menghadapi dampak bencana, termasuk kehilangan rumah, terganggunya pendidikan anak, hingga warga yang harus menjalani perawatan dan tinggal di tempat pengungsian.

BNPB Pastikan 7 Huntara di Manggarai Timur Tetap Kokoh Usai Gempa M5,3

“Kita semua masih dalam situasi melewati bencana gempa Flores yang menimpa beberapa saudara/i kita. Mereka tengah berduka kehilangan rumah, anak-anak tidak bisa sekolah, dan banyak yang sakit harus tinggal di tempat pengungsian. Karena itu, mari kita menjaga situasi Kamtibmas,” pungkasnya.

Dengan 62.787 pemilih dan 181 calon yang tersebar di 64 desa, Pilkades Mabar menjadi momentum politik lokal dengan partisipasi masyarakat yang luas. Karena itu, menjaga keamanan sebelum, saat, dan setelah pemungutan suara menjadi tanggung jawab bersama agar perbedaan pilihan tidak berkembang menjadi konflik sosial.

(Lidia)

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement