IDETORIAL.com, Kupang – Gerakan Ekonomi Kreatif (Gekraf) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengapresiasi pelaksanaan QRIStreet Festival “Takuju Market” Volume 5 sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan pelaku UMKM, komunitas kreatif, perbankan, pemerintah dan masyarakat dalam mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis digital.
Ketua DPW Gekraf NTT, Serena Francis, mengatakan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tidak sekadar menghadirkan kemudahan dalam pembayaran, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih kuat.
“QRIS bukan hanya soal pembayaran, tetapi bagian dari ekosistem yang harus kita bangun bersama. Ketika UMKM, komunitas kreatif, pemerintah, perbankan dan masyarakat bergerak bersama, maka ekosistem ekonomi kreatif kita akan semakin kuat,” kata Serena saat penutupan rangkaian Pekan QRIS Nasional (PQN), Senin, 17 Agustus 2026.
Menurut Serena, kegiatan Takuju Market memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk mempromosikan produk lokal sekaligus memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan transaksi digital dalam aktivitas usaha.
Digitalisasi pembayaran, lanjutnya, juga dapat mendorong pelaku UMKM melakukan pencatatan transaksi secara lebih tertib. Hal ini menjadi salah satu langkah penting menuju pengelolaan usaha yang lebih profesional sekaligus memperluas peluang pasar.
“Kita ingin QRIS tidak hanya hadir saat festival, tetapi menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari pelaku UMKM. Dengan begitu, digitalisasi tidak berhenti pada transaksi, tetapi ikut membuka peluang pasar dan memperkuat daya saing produk lokal,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTT, Adidoyo Prakoso, mengatakan QRIStreet Festival “Takuju Market” Volume 5 digelar sejak 14 hingga 17 Agustus 2026 sebagai bagian dari rangkaian puncak PQN 2026.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi BI NTT dengan komunitas kreatif di Kota Kupang. Masyarakat tidak hanya disuguhkan berbagai produk UMKM lokal, tetapi juga didorong untuk melakukan transaksi menggunakan QRIS.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat menikmati berbagai produk UMKM lokal dan bertransaksi menggunakan QRIS,” terang Adidoyo.
Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah kunjungan dan transaksi selama festival berlangsung. Berdasarkan data pelaksanaan QRIStreet Festival “Takuju Market” Volume 5, tercatat 4.797 pengunjung dengan 4.200 transaksi.
Menurut Adidoyo, capaian tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat Kota Kupang terhadap pemanfaatan sistem pembayaran digital.
“PQN memang berakhir hari ini, tapi upaya kami tidak berhenti di sini. Penggunaan QRIS yang semakin luas juga perlu diiringi dengan pemahaman masyarakat untuk bertransaksi secara aman,” tambahnya.
Penguatan ekosistem pembayaran digital juga diwujudkan BI NTT melalui penandatanganan kerja sama dengan sejumlah mitra strategis, di antaranya Bank NTT, BP3MI NTT dan LLDIKTI Wilayah XV.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas akses transaksi non-tunai sekaligus memperkuat edukasi dan perlindungan konsumen di seluruh wilayah NTT.
Adidoyo juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan PQN 2026, mulai dari pemerintah daerah, mitra strategis, industri sistem pembayaran, perbankan, pelaku UMKM, komunitas, media hingga masyarakat.
“Saya juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak terkait, pemerintah daerah, mitra kerja strategis, industri sistem pembayaran, perbankan, pelaku UMKM, komunitas, media serta semua masyarakat yang telah mendukung dan menjadi bagian dari PQN 2026,” tutup Adidoyo.
QRIS Street Festival “Takuju Market” Volume 5 menjadi salah satu ruang kolaborasi yang menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi kreatif. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan terus diperluas untuk memperkuat UMKM sekaligus mendorong transformasi digital di NTT.
(Lid)