GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
progres pengerjaan rumah hunian tetap in situ milik warga atas nama Nurbayti (64), di Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang

Pemerintah Upayakan Kenaikan Bantuan Hunian Tetap Korban Bencana di Aceh Hingga Rp80 Juta per Unit

IDETORIAL.com, Aceh – emerintah tengah mengupayakan peningkatan alokasi bantuan pembangunan Hunian Tetap (Huntap) in situ bagi korban bencana hidrometeorologi Siklon Senyar di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Nilai bantuan yang saat ini sebesar Rp60 juta per unit direncanakan naik menjadi hingga Rp80 juta per unit untuk rumah kategori rusak berat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengatakan rencana peningkatan tersebut merupakan hasil evaluasi lapangan yang menunjukkan besaran bantuan saat ini dinilai belum memadai, terutama akibat tingginya harga material bangunan serta biaya distribusi logistik ke wilayah terdampak.

Hal itu disampaikan Suharyanto usai meninjau progres pembangunan huntap in situ di Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, serta di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Senin, 22 Juni 2026.

Menurutnya, pemerintah pusat melalui rapat tingkat menteri yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) telah menyepakati usulan peningkatan bantuan tersebut, meski masih dalam tahap pembahasan lanjutan.

“Apabila nantinya disetujui, baik menjadi Rp65 juta, Rp70 juta, maupun Rp80 juta per unit, tentu kualitas rumah yang dibangun akan semakin baik dan lebih memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Suharyanto.

Wali Kota Kupang Janji TPP ASN Dibayarkan 12 Bulan Penuh pada 2026

Ia menjelaskan, program huntap in situ merupakan skema bantuan pemerintah melalui BNPB bagi rumah warga yang mengalami kerusakan berat akibat bencana. Rumah dibangun kembali di lokasi asal dengan tipe bangunan seluas 36 meter persegi yang terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, serta ruang keluarga.

Konstruksi bangunan menggunakan pondasi permanen, dinding bata plester, rangka baja ringan, dan atap spandek. Saat ini, proses pembangunan masih berlangsung sebagai bagian dari tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Aceh.

BNPB mencatat, hingga saat ini terdapat usulan sekitar 15.000 unit huntap in situ dari tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, sekitar 800 hingga 900 unit telah mulai dibangun, sementara hampir 400 unit lainnya telah selesai dan sebagian telah diserahterimakan kepada warga.

Suharyanto menegaskan bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap. Rumah yang telah selesai langsung diserahkan kepada warga agar dapat segera ditempati.

“Nanti kita bisa melihat dari Aceh Tamiang, Aceh Timur sampai Aceh Utara, beberapa rumah sudah jadi dan langsung diserahkan ke masyarakat. Proses ini berjalan terus secara bertahap,” katanya.

Ini Daftar Gadai Swasta Belum Berizin OJK

Selain meninjau pembangunan huntap, Kepala BNPB juga menyerahkan bantuan sembako untuk warga di lokasi Kualasimpang dan Peureulak Barat sebagai dukungan pemenuhan kebutuhan dasar pascabencana.

Salah satu warga penerima manfaat, Nurbayti (64), mengaku bersyukur rumahnya yang rusak akibat banjir telah dibangun kembali oleh pemerintah. Setelah sebelumnya tinggal di hunian sementara, ia kini menunggu rumah barunya untuk segera ditempati.

Hal serupa disampaikan Muhammad Fuad (35), warga Peureulak Barat. Ia mengapresiasi percepatan pembangunan huntap yang dinilai lebih layak dan nyaman dibandingkan rumah sebelumnya yang rusak akibat bencana.

“Alhamdulillah lebih bagus dan lebih nyaman. Setelah Huntara, kami akan pindah ke Huntap ini jika sudah selesai,” ujarnya.

Fuad menambahkan, kehadiran hunian tetap tersebut menjadi harapan baru bagi keluarganya untuk kembali menjalani kehidupan normal pascabencana.(lid)

Satgas PASTI Hentikan 27 Gadai Swasta Ilegal dan 228 Pedagang Aset Kripto Ilegal, Dana Korban Rp638,9 Miliar Diblokir

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement