IDETORIAL.com, Kupang – Prosesi Jalan Salib ke-X Pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Klasis Kota Kupang, menjadi momentum pengingat harapan dan keteguhan iman.
Hal tersebut di katakan Wali Kota Kupang, Chris Widodo saat melepas Prosesi Jalan Salib yang berlangsung di Taman Nostalgia, Kamis, 2 April 2026 malam.
Menurutnya, prosesi Jalan Salib bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam. Ia menggambarkan Jalan Salib sebagai perjalanan batin yang sarat dengan pesan tentang pengorbanan, penderitaan, rintangan, hingga kesunyian, namun pada akhirnya bermuara pada harapan dan kebangkitan.
“Di ujung dari setiap perjuangan selalu ada harapan. Itulah yang harus terus kita pegang. Tanpa harapan, manusia sesungguhnya telah kehilangan makna hidupnya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga harapan dalam situasi sesulit apa pun. Harapan, menurutnya, menjadi kekuatan utama yang menjaga manusia tetap bertahan dan terus melangkah menghadapi tantangan hidup.
Lebih lanjut, Wali Kota mengajak seluruh peserta, khususnya generasi muda, untuk merenungkan makna memikul “salib” dalam kehidupan masing-masing. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki tantangan dan tanggung jawab yang berbeda, baik sebagai mahasiswa, pelayan gereja, aparatur pemerintah, maupun pemimpin.
“Pertanyaannya, apakah kita masih berani berdiri tegak dan memikul salib kita masing-masing? Ini yang harus dijawab oleh kita semua, terutama para pemuda,” ungkapnya.
Pemuda GMIT diharapkan dapat terus menjadi “garam dan terang dunia” yang membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Ia juga menekankan bahwa kekuatan sejati bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan kemampuan untuk bangkit setiap kali mengalami kegagalan.
Ketua Majelis Klasis GMIT Kota Kupang, Pdt. Delviana K. Poych Snae, dalam suara gembalanya menegaskan bahwa, prosesi Jalan Salib merupakan warisan iman yang berharga dari generasi pemuda sebelumnya, yang terus dijaga hingga saat ini.
“Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi bagian dari panggilan gereja untuk menjadi komunitas misioner, yang hadir di tengah dunia sebagai garam dan terang,”terang Delviana K. Poych Snae.
Pelaksanaan prosesi Jalan Salib memiliki lima makna penting, di antaranya sebagai sarana refleksi teologis di tengah derasnya arus informasi dan dominasi media sosial. Melalui prosesi ini, umat diajak tidak hanya membaca kisah Alkitab, tetapi juga mengalami secara visual penderitaan Kristus, sehingga iman menjadi lebih hidup dan kontekstual.
Selain itu, Jalan Salib juga berfungsi sebagai sarana edukasi atau “katekisasi visual”, yang membantu jemaat memahami kisah sengsara Kristus, dengan lebih mendalam melalui dramatisasi di setiap etape.
Prosesi ini juga menjadi bentuk kesaksian iman di ruang publik, sekaligus wadah membangun persekutuan dan kebersamaan lintas elemen. Di sisi lain, Jalan Salib menjadi momentum transformasi hidup, mengajak umat untuk bertobat, memulihkan diri, serta membangun integritas dan keteladanan di tengah berbagai tantangan kehidupan.
Prosesi Jalan Salib Ke-X ini dilaksanakan dalam 10 etape yang melintasi sejumlah gereja GMIT di Kota Kupang. Rute prosesi dimulai dari kawasan Taman Nostalgia Kupang, kemudian melewati GMIT Kota Baru, GMIT Pniel Oebobo, GMIT Kefas Oetete, GMIT Koinonia Kupang, GMIT Syalom Kupang, GMIT Kemah Ibadat Airnona, GMIT Rehobot Bakunase, GMIT Hosana Batuplat, dan berakhir di GMIT Pohonitas Manulai II sebagai titik akhir perenungan.
‘