IDETORIAL.com, Bandar Seri Begawan – Pertemuan Pejabat Senior dalam sesi ke-38 Konferensi Regional FAO untuk Asia dan Pasifik (APRC38), diselenggarakan untuk merancang arah bagi sistem agripangan yang tangguh dan berkelanjutan.
Pertemuan Pejabat Senior Sesi ke-38 Konferensi Regional FAO untuk Asia dan Pasifik (APRC38) dibuka hari ini di Brunei Darussalam. Dalam rilis tertulis, Senin, 20 April 2026, selama tiga hari ke depan, pejabat pemerintah senior dari seluruh kawasan akan membahas berbagai tantangan dan isu yang muncul serta menetapkan serangkaian dasar teknis dan kebijakan menjelang Sesi Menteri pada akhir pekan ini.
Konferensi ini berlangsung pada saat yang kritis bagi kawasan ini. Asia dan Pasifik masih menyumbang 42 persen — sekitar 285 juta orang — dari populasi dunia yang kekurangan gizi, meski beberapa negara telah mencatat penurunan angka kelaparan.
Hampir satu miliar orang menghadapi kerawanan pangan dan lebih dari 1,2 miliar orang tidak mampu membeli makanan sehat. Kawasan ini juga bergulat dengan tiga beban malnutrisi: kekurangan gizi, kekurangan mikronutrien, dan peningkatan angka obesitas.
Berbagai tantangan ini diperparah oleh gabungan krisis, konflik dan ketegangan geopolitik yang mengganggu pasar pupuk dan energi global, dampak iklim yang semakin intensif termasuk kekeringan, banjir dan peristiwa cuaca ekstrem, degradasi lahan dan air, serta meningkatnya volatilitas dalam perdagangan dan rantai pasokan.
Saat membuka pertemuan, Alue Dohong, Asisten Direktur Jenderal dan Perwakilan Regional FAO untuk Asia dan Pasifik, mengatakan bahwa kerja sama regional diperlukan untuk mengatasi berbagai tantangan ini.
“Kita bertemu pada titik kritis. Serangkaian krisis yang saling terkait yang dihadapi kawasan kita saat ini—mulai dari gangguan geopolitik hingga guncangan iklim—menuntut kita untuk bergerak dengan segera guna membentuk kembali sistem agripangan yang efisien, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan,” kata Dohong.
“Konferensi ini merupakan kesempatan untuk menyelaraskan dan mengkoordinasikan respons kebijakan dan investasi jangka panjang yang akan menentukan apakah kita dapat mengakhiri kelaparan dan meningkatkan taraf hidup di Asia dan Pasifik.”
Dohong mendorong seluruh negara anggota untuk memanfaatkan konferensi ini untuk memperkuat Kerjasama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST) serta memperdalam aliansi strategis dengan lembaga keuangan internasional, masyarakat sipil, dan sektor swasta, dengan berfokus pada pengarahan investasi kepada petani kecil dan petani keluarga yang paling membutuhkan dukungan.
Pertemuan Pejabat Senior akan membahas agenda substantif yang mencakup peningkatan akses terhadap makanan bergizi dan terjangkau; mempercepat produksi pertanian rendah karbon dan berkelanjutan; meningkatkan efisiensi dan inklusi di seluruh sistem agripangan; memfasilitasi perdagangan dan integrasi pasar—khususnya untuk negara-negara yang tak lagi berstatus negara kurang berkembang; dan memobilisasi pendanaan serta investasi domestik dan internasional.
Rabu pekan ini juga menandai dibukanya Forum Pangan Dunia – Asia Pasifik, sebuah acara khusus yang menyatukan para pemangku kepentingan seputar keterlibatan anak muda, sains dan inovasi, serta investasi untuk transformasi sistem agripangan. Di hari yang sama, akan berlangsung Acara Menteri khusus untuk Negara-Negara Kepulauan Kecil yang Sedang Berkembang, Negara-Negara Berkembang yang Terkurung Daratan, dan Negara-Negara Kurang Berkembang.
Sementara itu, Sesi Menteri tingkat tinggi akan dimulai pada hari Kamis dengan upacara pembukaan yang dipimpin oleh Putra Mahkota Brunei, Yang Mulia Pangeran Haji Al-Muhtadee Billah ibini Yang Mulia Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah.
Pada hari Jumat, para Menteri akan melanjutkan diskusi meja bundar tentang inovasi untuk ketahanan pangan, penyakit hewan lintas batas, jalur investasi agripangan, Transformasi Biru dan sistem pangan perairan, serta percepatan pendekatan bioekonomi.
APRC38 diselenggarakan oleh Pemerintah Brunei Darussalam. Konferensi ini merupakan pertemuan badan pengurus Negara Anggota FAO di Asia dan Pasifik dan diadakan setiap dua tahun sekali. (*)