GULIR UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M.

Kepala BNPB Pastikan Penanganan Darurat Gempa Sulteng Optimal, Bantuan dan Tempat Ibadah Sementara Disiapkan

IDETORIAL.com, Sigi – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, meninjau langsung wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 6,7 di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat, 19 Juni 2026.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi.

Dalam kunjungan itu, Suharyanto menyampaikan bahwa kehadirannya merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat sekaligus membawa pesan Presiden Prabowo Subianto yang menyampaikan duka cita kepada masyarakat terdampak bencana.

“Kami ke sini ingin memastikan penanganan darurat pascagempa berjalan optimal serta kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Suharyanto.

Kepala BNPB memimpin rapat koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Sigi, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, BPBD Kabupaten Sigi, TNI-Polri, dan unsur Forkopimda di Posko Lapangan Kecamatan Nokilalaki. Dalam rapat tersebut dibahas perkembangan situasi terkini, percepatan pendataan kerusakan, kebutuhan penanganan darurat, hingga langkah-langkah pemulihan bagi masyarakat terdampak.

Kota Kupang Kirim 23 Peserta ke MTQ Tingkat Provinsi NTT

Menurut Suharyanto, penanganan darurat pascagempa berlangsung cukup cepat. Berbagai tenda pengungsian telah didirikan di dekat permukiman warga sebagai langkah antisipasi jika terjadi gempa susulan.

“Pada hari keempat setelah bencana, penanganan berlangsung sangat cepat. Tenda-tenda sudah dibangun dekat rumah warga sebagai antisipasi apabila terjadi gempa susulan,” katanya.

Selain dampak gempa, BNPB juga mengantisipasi potensi banjir bandang akibat longsoran di sejumlah perbukitan. Berdasarkan hasil pemantauan menggunakan drone, ditemukan sedikitnya 24 titik longsor dengan empat titik yang mengalami penyumbatan aliran air akibat material longsoran.

Untuk mencegah risiko banjir bandang saat curah hujan meningkat, BNPB bersama pemerintah daerah sepakat melakukan pemantauan berkala dan membuka sumbatan menggunakan pompa alkon.

“Air yang tertahan akibat longsoran berpotensi memicu banjir bandang jika hujan deras. Karena itu, bagian yang tersumbat akan segera dibuka,” ujar Suharyanto.

Pemkot Kupang – Plan Indonesia Perkuat Akses Air Bersih Berkelanjutan Lewat Program CERAH

Usai rapat koordinasi, Kepala BNPB meninjau sejumlah lokasi terdampak di Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo, dan Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki. Ia melihat langsung kondisi rumah warga, fasilitas umum, serta rumah ibadah yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Dalam dialog dengan warga, Suharyanto memastikan BNPB akan menyediakan tempat ibadah sementara bagi masyarakat yang gereja maupun masjidnya mengalami kerusakan.

“Untuk gereja yang rusak, besok akan kami bangunkan tenda yang lebih besar sebagai tempat ibadah sementara. Selanjutnya akan dibangun gereja sementara. Hal yang sama juga akan dilakukan untuk masjid yang terdampak,” jelasnya.

Kehadiran bantuan BNPB mendapat apresiasi dari masyarakat. Yansen, warga Desa Kamarora B, mengaku kondisi pengungsian menjadi lebih nyaman setelah bantuan tenda tiba.

“Alhamdulillah sekarang sudah ada tenda dari BNPB. Sebelumnya angin masuk dan terasa sangat dingin, sekarang lebih nyaman,” katanya.

Satgas PASTI Hentikan Kegiatan Universal Peak dan BAFI Group Indonesia

Meski demikian, Suharyanto menegaskan bahwa pengungsian hanya bersifat sementara. Pemerintah akan memberikan bantuan stimulan bagi rumah yang mengalami kerusakan, yakni Rp15 juta untuk rumah rusak ringan, Rp30 juta untuk rumah rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rumah rusak berat.

Selain itu, BNPB juga menyiapkan Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga yang rumahnya rusak berat. Bantuan tersebut diberikan hingga hunian tetap selesai dibangun.

Berdasarkan data sementara BPBD, Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang mengalami dampak paling signifikan akibat gempa yang terjadi pada Selasa (16/6). Hingga saat ini tercatat tiga orang meninggal dunia dan sejumlah warga mengalami luka-luka serta kerusakan rumah dan fasilitas umum.

Sementara itu, BMKG mencatat hingga Kamis (18/6) telah terjadi 703 kali gempa susulan. Dari jumlah tersebut, 25 gempa masih dirasakan masyarakat. Kondisi ini menyebabkan sebagian warga memilih bertahan di tenda pengungsian karena khawatir terhadap potensi gempa susulan.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, mulai 17 hingga 23 Juni 2026, guna mempercepat mobilisasi sumber daya dan penanganan dampak bencana.

Sebagai bentuk dukungan, BNPB telah menyalurkan berbagai bantuan logistik, antara lain tenda pengungsi, tenda keluarga, paket sembako, matras, selimut, kasur lipat, perlengkapan anak, hingga tenda untuk tempat ibadah sementara.

Di sisi lain, personel TNI, Polri, relawan, dan berbagai unsur terkait terus membantu pembersihan puing bangunan, distribusi bantuan, serta pendirian tenda pengungsian. Pemerintah daerah juga masih melakukan pendataan by name by address guna memastikan seluruh korban terdampak mendapatkan bantuan secara tepat sasaran.

Melalui kunjungan kerja tersebut, BNPB menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat hingga masa tanggap darurat berakhir dan proses rehabilitasi serta rekonstruksi dapat berjalan dengan baik. (lid)

error: Konten ini dilindungi !!
× Advertisement
× Advertisement