IDETORIAL.COM, Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,45 persen pada Februari 2026. Dan terjadi inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 1,10 persen pada Februari 2026.
“Kalau kita bandingkan denganinflasi level nasional, Provinsi masih rendah dan ini inflasi yang kembali terjadi pada tahun setelah sebelumnya pada Januari lalu,”jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Matamira Kale, Senin, 2 Maret 2026.
Sementara inflasi year on year (y-on-y) NTT sebesar 3,42 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,14.
Inflasi (mtm) tertinggi terjadi di Kota Kupang 0,71 persen dengan IHK sebesar 109,85 dan Inflasi terendah terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebesar 0.03 persen
dengan IHK sebesar 110,51.
Inflasi y-on-y Februari 2026 terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 9 dari 11 indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,67 persen.
Kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,17 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 10,37 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,16 persen; kelompok kesehatan sebesar 1,75 persen; kelompok transportasi sebesar 1,04 persen;
Kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,60 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,11 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 21,63 persen.
Sementara, kelompok yang mengalami penurunan indeks harga, yaitu: kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,64 persen dan kelompok pedidikan sebesar 2,29 persen pada Februari 2026.
“Komoditas – komoditas yang mendorong inflasi umumnya di dominasi oleh makanan,minuman dan tembakau, seperti kita ketahui, harganya sangat rentan karena berbagai perubahan dan tergantung banyak hal,”tutur Matamira.
Harga komoditas yang rentan tersebut dipengaruhi beberapa hal yakni permintaan konsumen, ketersediaan pasokan dan distribusi, serta kondisi cuaca dan juga situasi Geopolitik yang saat ini terjadi perang di Timur Tengah dapat juga mempengaruhi kondisi harga barang dan jasa di Indonesia.