IDETORIAL.com, Kupang — Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai potensi unggulan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan pasar yang lebih luas, sekaligus mendorongnya menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Tenun, kopi, kelor, kuliner, hingga produk kreatif daerah dipromosikan tidak hanya sebagai produk unggulan, tetapi sebagai komoditas yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, Senin, 5 Oktober 2026, usai menutup perhelatan FCE 2026. Destry mengatakan potensi unggulan NTT dapat dikembangkan untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus membuka lapangan kerja.
“Potensi unggulan NTT, seperti tenun, kopi, kelor, kuliner, hingga produk kreatif daerah, dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dan penciptaan lapangan kerja,”katanya.
Menurut Destry, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu fondasi untuk membangun ekonomi yang tumbuh berkelanjutan dan memiliki daya tahan. Karena itu, penguatan ekonomi kerakyatan membutuhkan sinergi antara BI dan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengapresiasi pengembangan Exotic Tenun Fest menjadi FCE. Transformasi tersebut memperluas ruang pengembangan ekonomi kreatif NTT, dari yang sebelumnya berfokus pada tenun menjadi ekosistem yang mencakup berbagai potensi unggulan daerah.
“Pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup berhenti pada pameran produk. Penguatan identitas budaya, penciptaan nilai tambah, pembukaan lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat harus menjadi bagian dari proses tersebut,” kata Melki.
Ia mengatakan produk unggulan NTT perlu terus diperkuat dari sisi kualitas dan daya saing agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Perluasan jejaring dan kolaborasi juga diperlukan untuk mempercepat transformasi ekonomi daerah berbasis kreativitas dan inovasi.
Kepala Kantor Perwakilan BI NTT Adidoyo Prakoso mengatakan FCE 2026 dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas UMKM sekaligus menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Adidoyo, pelaksanaan FCE mengusung kerangka 3I+S, yakni impactful, inklusif, integrasi, dan sinergi. Konsep tersebut diterjemahkan melalui masterclass, talkshow, kompetisi, pameran UMKM, edukasi, aktivasi masyarakat, hingga hiburan.
FCE 2026 yang berlangsung di Lippo Plaza Kupang pada 2–4 Oktober 2026 mencatat penjualan UMKM sebesar Rp609,89 juta. Kegiatan tersebut juga menghasilkan Letter of Intent (LoI) ekspor sekitar Rp27 miliar per tahun melalui business matching.
Salah satu hasil konkret dari pertemuan bisnis tersebut ialah kesepakatan ekspor kakao antara koperasi petani kakao di Kabupaten Sikka dan pembeli asal Australia. Pengiriman awal sebanyak 20 ton kakao disepakati dengan nilai sekitar Rp1,1 miliar.
“Capaian tersebut menunjukkan upaya mempertemukan produk lokal dengan pasar tidak berhenti pada aktivitas promosi, tetapi mulai diarahkan pada terbentuknya transaksi dan kemitraan bisnis,” kata Adidoyo.
FCE 2026 merupakan pengembangan dari Exotic Tenun Fest dengan cakupan ekonomi kreatif yang lebih luas. Tenun dan wastra tetap menjadi identitas utama NTT, sementara kopi, kuliner, kelor, serta produk kreatif lainnya mendapat ruang untuk dikembangkan dan dipasarkan.
Selama tiga hari pelaksanaan, FCE 2026 mencatat 65.200 kunjungan. Sebanyak 59.900 kunjungan tercatat di area dalam Lippo Plaza berdasarkan data manajemen Lippo Mall, sedangkan 5.300 kunjungan berada di area luar berdasarkan data penyelenggara.
Di luar aktivitas ekonomi, FCE 2026 juga menjadi ruang solidaritas bagi masyarakat terdampak bencana di Pulau Flores. Semangat “Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae” yang dimaknai sebagai ajakan untuk bersama, saling peduli, dan menguatkan untuk bangkit diwujudkan melalui penggalangan donasi.
Donasi dihimpun melalui QRIS ChariTree, kontribusi dari penjualan UMKM, dan lelang tenun. Dari rangkaian tersebut terkumpul tambahan donasi sebesar Rp29.099.266 untuk mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana di Flores.
Pada pembukaan FCE, Gubernur BI juga menyerahkan dukungan kepada Pemerintah Provinsi NTT berupa kebutuhan pangan, obat-obatan, tempat tinggal sementara, serta dukungan keberlanjutan pendidikan anak-anak. Dukungan pemulihan selanjutnya diarahkan pada penyediaan fasilitas sanitasi, akses air bersih, dan sarana pembelajaran.
Rangkaian capaian tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan potensi unggulan NTT diarahkan melampaui kegiatan promosi. Akses pasar, hilirisasi komoditas, digitalisasi, pembiayaan, dan jejaring bisnis menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.
Tantangannya kini ialah memastikan peluang bisnis yang terbentuk melalui FCE berlanjut setelah pameran berakhir. Realisasi transaksi dan keberlanjutan kemitraan akan menentukan sejauh mana potensi unggulan NTT benar-benar berkembang menjadi sumber ekonomi baru dan memberi manfaat jangka panjang bagi pelaku UMKM serta masyarakat.
(Lidia)