IDETORIAL.com, Kupang – Exotic Tenun Festival mengalami perubahan konsep menjadi Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026. Perubahan ini menandai pergeseran fokus kegiatan yang selama lima tahun sebelumnya lebih menitikberatkan pada tenun menjadi ajang yang menampilkan beragam produk ekonomi kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Nusa Tenggara Timur (NTT).
FCE 2026 akan berlangsung di area perbelanjaan Lippo Plaza Kupang, 2-4 Oktober 2026, dengan mengusung tema “Flobamorata Berkarya, Menuju Perekonomian Bergaya dan Berkelanjutan”. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang promosi sekaligus pengembangan kapasitas dan akses pasar bagi pelaku UMKM.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, dalam pertemuan Sasando Dia (Sante-sante Baomong Deng Media), Selasa, 22 September 2026, mengatakan perubahan konsep dilakukan karena potensi ekonomi kreatif NTT tidak hanya bertumpu pada tenun.
“FCE ini kami rebranding atau bertransformasi dari Exotic Tenun Festival yang sudah diadakan selama lima tahun terakhir. Kenapa diganti? Karena di Exotic terlalu fokus pada tenun. Padahal di NTT bukan hanya tenun yang bisa kita jual, manfaatkan atau kita angkat. Ada produk kelautan, kopi, wastra, dan lain-lain,” kata Adidoyo.
Menurut Adidoyo, perubahan konsep tersebut membuka ruang untuk menampilkan lebih banyak produk berbasis potensi lokal. Pengembangan produk ekonomi kreatif, kata dia, juga perlu diikuti peningkatan kualitas, standardisasi dan akses pembiayaan agar mampu memiliki nilai tambah serta menjangkau pasar yang lebih luas.
“Kami ingin lebih memperluas cakupan, bukan hanya memasarkan tenun saja, tapi produk-produk yang dihasilkan oleh UMKM,” tambahnya.
BI NTT menilai produk berbasis local content memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Sejumlah contoh yang disebut antara lain inovasi kuliner es krim berbahan kulit pisang di Malaka dan kerajinan berbahan dasar rotan.
Sementara itu, Analis Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusi (KI) dan Syariah BI NTT, Reyza Lisembena Budiarjo, mengatakan perubahan konsep Exotic Tenun Festival menjadi FCE memberikan ruang lebih besar bagi pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan produk dan karya mereka.
“Perubahan konsep ini membuat ruang yang tersedia menjadi lebih luas. Kami ingin potensi kreatif dari berbagai daerah di NTT dapat tampil, bertemu pasar dan memiliki peluang untuk berkembang,” terang Reyza.
Dalam penyelenggaraannya, FCE 2026 akan menghadirkan talk show, master class dan berbagai perlombaan. Rangkaian kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM, memperbaiki kualitas produk dan memperkuat jaringan pemasaran.
BI juga mendorong digitalisasi transaksi melalui penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada stan-stan UMKM. Pembayaran digital diharapkan mempermudah transaksi sekaligus membantu pelaku usaha melakukan pencatatan transaksi secara lebih tertib.
Aspek digitalisasi tersebut juga berkaitan dengan misi sosial yang dibawa FCE 2026. Sebagian hasil penjualan produk UMKM akan disalurkan sebagai donasi untuk masyarakat terdampak bencana di Pulau Flores.
Kelompok perajin binaan Dekranasda NTT menyiapkan kain khusus dengan komitmen mendonasikan seluruh hasil penjualannya untuk mendukung penanganan dampak bencana.
Panitia juga menyiapkan konsep Interactive Charity untuk menghubungkan aktivitas pengunjung dengan penggalangan donasi. Interaksi dan transaksi selama kegiatan akan dikonversi menjadi bagian dari donasi.
Dengan perubahan konsep tersebut, FCE 2026 tidak lagi menempatkan tenun sebagai satu-satunya fokus. Tenun tetap menjadi bagian dari kegiatan, namun hadir bersama kopi, produk kelautan, kuliner, kerajinan dan berbagai produk kreatif berbasis potensi lokal NTT.
Melalui FCE 2026, BI bersama Pemprov NTT dan Dekranasda mendorong agar produk ekonomi kreatif daerah tidak hanya tampil dalam satu gelaran, tetapi memiliki peluang untuk berkembang melalui peningkatan kapasitas, akses pasar dan pemanfaatan sistem pembayaran digital.
(Lidia)