IDETORIAL.com, Kupang – Bank Indonesia (BI) menghadirkan lomba desain tenun dalam Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026, sebagai ruang bagi desainer mengembangkan kain tenun NTT, menjadi busana kasual (gaya pakaian yang nyaman, santai, dan tidak terlalu formal) yang lebih dekat dengan gaya hidup anak muda.
Lomba tersebut tidak hanya menuntut peserta menghasilkan desain yang menarik, tetapi juga tetap mempertahankan cerita dan identitas yang melekat pada tenun. Penggunaan tenun 60persen sebagai aturan baku menciptakan tenun casual yang di padukan tidak sekadar menjadi aksesori atau tempelan pada pakaian, melainkan menjadi bagian utama dari rancangan.
“Lomba ini sebagai cara mendorong desainer berinovasi, tenun yang dikombinasikan sehingga bisa dipakai di mana saja, terutama untuk anak muda,”kata Analis Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusi (KI) dan Syariah BI NTT, Reyza Lisembena Budiarjo, Rabu, 23 September 2026 dalam pembahasan lomba desain tersebut.
Konsep tenun casual wear menjadi salah satu pendekatan yang ditawarkan agar tenun dapat digunakan lebih fleksibel. Tenun tidak hanya hadir dalam busana formal atau acara tertentu, tetapi bisa dikembangkan menjadi pakaian yang dapat dikenakan sehari-hari, termasuk oleh generasi muda.
Melalui lomba ini, desainer ditantang memadukan karakter tradisional tenun dengan desain yang lebih modern. Kreativitas menjadi penting agar kain tenun tetap memiliki identitas, sekaligus mampu diterima di ruang-ruang yang lebih luas dan sesuai dengan selera pasar anak muda.
Antusiasme peserta disebut cukup tinggi. Lebih dari 30 peserta telah mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba yang diharapkan menjadi ruang munculnya karya-karya baru berbasis tenun NTT.
Selain menghasilkan desain baru, lomba tersebut juga diarahkan untuk membuka ruang regenerasi. Generasi muda tidak hanya ditempatkan sebagai konsumen tenun, tetapi juga diberi kesempatan tampil sebagai desainer dan pelaku industri kreatif.
“Harapannya, ada regenerasi yang muncul, karena casual cenderung untuk yang lebih muda,”tandas Reyza.
Peserta dengan karya potensial diharapkan dapat memperoleh pembinaan dan kesempatan memperkenalkan karyanya secara lebih luas, melalui dukungan pemerintah maupun pemangku kepentingan terkait.
Dengan demikian, lomba desain FCE 2026 menjadi bagian dari upaya membawa tenun NTT ke pasar yang lebih luas, tanpa kehilangan cerita dan identitas budayanya. Tenun tetap menjadi pusat karya, sementara desain kasual menjadi jembatan untuk mendekatkannya dengan generasi muda.
(Lidia)