IDETORIAL.com, Kupang — Ketika sebagian masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berupaya bangkit setelah diguncang gempa bumi, para petugas Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) tetap bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Petugas menyusuri jalan, mendatangi tenda – tenda penampungan, dan berusaha tetap mencatat aktivitas ekonomi yang berlangsung di tengah situasi yang tidak mudah.
“Ada strategi-strategis lapangan yang dilakukan BPS, yang tadinya petugas sudah identifikasi secara door to door, mereka harus turun ke setiap barak – barak penampungan, dan mengarahkan seluruh unsur mitra statistik termasuk tenaga organik,”jelas Statistisi Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Pembina Statistik Sektoral dan Diseminasi BPS NTT, Indra Achmad Souri, dalam diskusi bersama wartawan, Rabu, 19 Agustus 2026.
Hingga mendekati akhir pelaksanaan, tambah Indra, pendataan SE2026 di NTT telah mencapai sekitar 80 persen. Capaian tersebut menjadi gambaran tentang bagaimana pekerjaan pencatatan ekonomi tetap berjalan, meski sejumlah wilayah NTT dalam beberapa hari terakhir menghadapi dampak bencana gempa bumi.
SE2026 sendiri merupakan agenda nasional yang dilaksanakan setiap 10 tahun, untuk memotret kondisi dan struktur perekonomian secara lebih menyeluruh. Pendataan mencakup berbagai skala usaha, mulai dari usaha besar hingga usaha mikro, termasuk aktivitas ekonomi yang tumbuh di tengah masyarakat.
Namun di NTT, proses pendataan tahun ini memiliki cerita tersendiri. Di tengah aktivitas petugas yang mengejar target pendataan, sejumlah wilayah justru harus berhadapan dengan bencana.
Bagi petugas, situasi tersebut bukan sekadar persoalan angka capaian. Di balik setiap data yang dikumpulkan, ada cerita tentang pelaku usaha yang sedang mempertahankan kehidupannya, pedagang yang kembali membuka lapak, pemilik kios yang menghitung ulang kerugian, hingga usaha kecil yang berusaha tetap bertahan setelah bencana.
Karena itu, mencatat ekonomi di tengah bencana bukan hanya tentang memenuhi target sensus. Ada realitas masyarakat yang sedang berjuang untuk tetap menjalankan roda kehidupan.
Data yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik (BPS) diharapkan mampu menggambarkan kondisi ekonomi secara lebih utuh, termasuk bagaimana dunia usaha bertahan, bergerak, dan beradaptasi menghadapi berbagai perubahan.
BPS sebelumnya menegaskan bahwa SE2026 menjadi instrumen penting untuk memotret kondisi perekonomian dan menyediakan dasar bagi perumusan kebijakan pembangunan.
Dengan capaian sekitar 80 persen, perjalanan SE2026 di NTT kini memasuki tahap akhir. Waktu yang tersisa menjadi kesempatan bagi petugas untuk menuntaskan pendataan sekaligus memastikan tidak ada aktivitas ekonomi masyarakat yang terlewat dari pencatatan.
“Secara cakupan, hingga saat ini pendataan mendekati posisi 80, dibarak – barak itupun kami ceklist ulang, meski dengan mekanisme yang berbeda dengan rumah tangga biasa, ada task force untuk turun ke tiap barak,”terang Indra.
Di tengah puing-puing, keterbatasan akses, dan masyarakat yang masih memulihkan diri, pekerjaan mencatat tetap dilakukan. Sebab, setelah bencana berlalu, pemerintah tetap membutuhkan satu hal penting: data yang mampu menunjukkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Dari data itulah nantinya dapat terlihat bukan hanya seberapa besar ekonomi NTT bergerak, tetapi juga bagaimana masyarakat bertahan dan bangkit ketika menghadapi keadaan yang paling sulit.
SE2026 akhirnya bukan sekadar tentang angka. Ia adalah upaya untuk merekam wajah ekonomi NTT—termasuk wajah masyarakat yang tetap berusaha, berdagang, bekerja, dan bangkit di tengah bencana.
(Lid)