IDETORIAL.com, Labuan Bajo – PTTEP Indonesia mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan dalam penyelenggaraan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Festival yang berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 tersebut dihadiri lebih dari 45 ribu pengunjung dan wisatawan. Di tengah tingginya aktivitas festival, dukungan PTTEP Indonesia melalui Program Positif Bajo berhasil mendorong pengumpulan lebih dari 1 ton sampah yang terdiri atas sampah organik, anorganik, dan residu.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjadikan Festival Golo Koe sebagai Green Event, sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Sebagai Waste Management Leader, Positif Bajo mengoordinasikan pengelolaan sampah bersama panitia festival, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Dinas Lingkungan Hidup, Keuskupan Labuan Bajo, serta masyarakat.
Tidak hanya mengumpulkan sampah, program tersebut juga menghadirkan Booth Edukasi yang memperkenalkan pemilahan sampah, ekonomi sirkular, dan praktik pengelolaan lingkungan secara interaktif.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian pengunjung adalah penukaran botol plastik dengan berbagai hadiah, seperti tas, pakaian, minyak goreng, dan susu. Aktivitas tersebut memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya anak-anak, bahwa sampah yang dipilah dengan baik memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan kembali.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai Barat, Vinsen Gande, mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, pendekatan pengelolaan sampah yang dilakukan sejak festival berlangsung merupakan langkah maju karena tidak sekadar berorientasi pada kebersihan, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Saya merasa bangga dan berterima kasih kepada pengelola yang telah mengambil bagian secara penuh dalam pengelolaan sampah. Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat melihat bahwa sampah memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan, bahkan menghasilkan pendapatan,” ujarnya dalam rilis tertulis, Senin, 17 Agustus 2026.
Ia berharap kolaborasi yang didukung PTTEP Indonesia tersebut tidak berhenti selama festival, tetapi dapat diperluas hingga lingkungan masyarakat dan rumah tangga.
“Anak-anak yang mendapatkan edukasi hari ini diharapkan dapat membawa pengetahuan tersebut pulang dan menularkannya kepada keluarga,” tambahnya.
Upaya membangun kesadaran lingkungan juga diperkuat melalui Golo Koe Eco Action 2026, yakni lomba kebersihan lingkungan yang mendorong masyarakat menjadikan kebersihan sebagai tanggung jawab bersama.
Matheus Patut, perwakilan Tim Wilayah 5A Paroki Roh Kudus yang meraih juara pertama, mengatakan kegiatan tersebut mendorong kelompoknya untuk semakin aktif mengajak masyarakat menjaga lingkungan.
“Kebersihan merupakan tanggung jawab setiap warga dan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah masing-masing,” terang Matheus.
Kolaborasi PTTEP Indonesia bersama Inovasi Gerakan Masyarakat, panitia Festival Golo Koe, Keuskupan Labuan Bajo, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Dinas Lingkungan Hidup, serta berbagai pemangku kepentingan menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat menjadi bagian integral dari kegiatan budaya dan pariwisata berskala besar.
Pengumpulan lebih dari 1 ton sampah selama Festival Golo Koe 2026 menjadi langkah konkret dalam memperkuat budaya memilah sampah sekaligus mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular.
Bagi Labuan Bajo, upaya tersebut menjadi bagian penting dalam membangun destinasi pariwisata yang tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga mampu tumbuh dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
(Lid)